Oil edged higher as market weighs supply risks in Venezuela and Russia
Crude oil prices settled marginally higher on Thursday as a tightening US naval blockade of Venezuela and the threat of fresh sanctions on Russia’s energy sector
Harga minyak bumi ditutup sedikit naik pada hari Kamis, seiring pengetatan blokade angkatan laut AS terhadap Venezuela dan ancaman sanksi baru terhadap sektor energi Rusia kembali menghadirkan penambahan risiko geopolitik ke dalam pasar yang masih tertekan kekhawatiran kelebihan pasokan.
Futures minyak bumi Brent naik 14 sen, atau 0,2%, dan ditutup $59,82 per barel.
WTI naik 21 sen, atau 0,4%, dan ditutup $56,15 per barel.
Pergerakan naik ini dipicu blokade maritim AS yang menargetkan ekspor Venezuela. Intelijen pasar memperlihatkan dengan fasilitas penyimpanan mendekati kapasitas maksimum, perusahaan minyak negara PDVSA berpotensi terpaksa melakukan “shut-in” produksi jika kapal tanker tetap tidak dapat berlayar menuju pasar utama di China. Meski dua very large crude carriers (VLCC) yang tidak terkena sanksi dilaporkan sudah mendapat izin berlayar ke Asia, potensi gangguan sebesar 600.000 barel per hari (bph) terus menopang harga di dekat level terendah dalam empat tahun.
Sentimen pasar semakin diperkuat laporan AS tengah memfinalisasi paket sanksi baru yang menargetkan “armada bayangan” Rusia dan infrastruktur energinya, yang bergantung pada hasil pertemuan puncak perdamaian berisiko tinggi dijadwalkan berlangsung akhir minggu ini. Hal ini mengikuti keputusan Inggris pada hari Kamis untuk menjatuhkan sanksi terhadap entitas minyak Rusia, Tatneft dan Russneft.
Namun kenaikan harga tetap terbatas karena lonjakan signifikan stok bensin AS sebesar 4,8 juta barel yang dua kali lipat dari perkiraan, serta produksi yang masih berada pada level rekor sebesar 13,8 juta barel per hari. Para analis mencatat meski ketegangan geopolitik memberikan penopang waktu dekat, proyeksi surplus global pada 2026 terus membebani prospek waktu panjang.
Written by: Aiman Haikal
