Oil steadied as waning Iran supply-risk premium meets emerging trade friction
Oil prices remained largely range-bound on Monday as the geopolitical risk premium tied to Iranian supply continued to deflate, offset by a nascent "risk-off" sentiment stemming from a diplomatic stand-off over Greenland.
Harga minyak tetap bergerak dalam kisaran sempit pada hari Senin, seiring meredanya risiko geopolitik yang terkait pasokan Iran, diimbangi munculnya sentimen “risk-off” akibat kebuntuan diplomatik terkait Greenland.
Kontrak future Brent naik tipis sebesar US$0,19 atau 0,27% ditutup pada US$63,94 per barel.
WTI ditangguhkan pada Senin sehubungan hari libur federal.
Tekanan penurunan harga utama berasal laporan otoritas Iran berhasil meredam gelombang protes nasional baru-baru ini. Berkurangnya persepsi ancaman serangan yang dipimpin AS terhadap infrastruktur energi Iran, para pedagang dengan agresif memangkas posisi beli (long).
Namun, penurunan harga lebih dalam tertahan munculnya sengketa kedaulatan antara Washington dan Denmark terkait Greenland. Prospek penerapan tarif hukuman oleh AS terhadap sekutu-sekutu Eropa memunculkan bayang-bayang meluasnya perang dagang, membebani pasar ekuitas global dan melemahkan keseluruhan selera risiko investor.
Menambah kompleksitas prospek pasar merupakan sinyal fundamental yang saling bertentangan. Sentimen bullish didukung meningkatnya kekhawatiran terhadap infrastruktur energi Rusia serta potensi kekurangan distilat seiring pola cuaca lebih dingin melanda Belahan Bumi Utara. Sebaliknya, perkiraan masuknya minyak bumi Venezuela yang kena sanksi ke Pantai Teluk AS terus bertindak sebagai jangkar pasokan signifikan.
Pelaku pasar menilai kekuatan-kekuatan yang saling bersaing ini antara proyeksi pertumbuhan IMF yang optimistis untuk tahun 2026 dan ekspansi pasokan waktu pendek serta ketidakpastian perdagangan menjadi kemungkinan akan mengunci harga minyak bumi dalam periode konsolidasi mendatar dalam waktu dekat.
Written by: Aiman Haikal
