Oil posted historic weekly gains as prolonged Hormuz blockade triggers unprecedented scramble for US crude
Over five days, WTI soared 35.6% and Brent 27%, underscoring a widening structural divergence between the two benchmarks.
Pasar energi global melonjak tajam pada hari Jumat ketika meningkatnya ketegangan antara AS–Israel–Iran memicu blokade selama seminggu di Selat Hormuz.
Brent ditutup pada $92,69 per barel, naik $7,28 atau 8,5%, sementara WTI AS melonjak $9,89, naik 12,2% menjadi $90,90 per barel menandai kenaikan mingguan paling tajam sejak Musim Semi 2020. Selama lima hari, WTI melesat 35,6% dan Brent 27%, menegaskan semakin lebarnya divergensi (perbedaan) struktural antara dua acuan itu.
Penutupan selama tujuh hari menjebak sekitar 140 juta barel minyak, memaksa kilang mencari pasokan alternatif. Minyak bumi AS diuntungkan pasokan langsung, margin penyulingan lokal menarik, serta potensi arbitrase tinggi ke Eropa, memperkuat pergerakan harga. Risiko geopolitik meningkat semakin mengikis sentimen bearish, proyeksi institusional cepat mulai mengarah ke level $100 per barel.
Peringatan menteri energi Qatar ekspor Teluk dapat terhenti sepenuhnya dalam beberapa minggu memicu kepanikan, mengisyaratkan potensi kenaikan hingga $150 per barel dalam skenario terburuk. Sinyal kebijakan AS semakin memperkuat suasana risk-on, pemerintahan memprioritaskan tujuan militer dibanding harga bahan bakar lokal.
Langkah darurat, termasuk keringanan sanksi Departemen Keuangan AS untuk minyak bumi Rusia, serta kilang India yang mengamankan kargo, hanya memberikan sedikit kelegaan. Para trader kini menghadapi volatilitas ekstrem, menyeimbangkan mitigasi pasokan sementara kerugian terus berlanjut dari ekspor Teluk.
Written by: Aiman Haikal
