Oil breached $100 in historic 9% surge as Iran hardens Hormuz blockade
Oil prices erupted on Thursday, definitively breaching the $100 threshold as Iranian leadership explicitly vowed to maintain its blockade of the Strait of Hormuz amid escalating maritime strikes.
Harga minyak melonjak tajam pada Kamis, secara pasti menembus batas $100 setelah kepemimpinan Iran terbuka berjanji akan menahan blokade di Selat Hormuz di tengah meningkatnya serangan maritim.
Kontrak future Brent crude ditutup pada $100,46 per barel, melonjak 9,2%, setelah sempat menyentuh puncak intraday (harian) di $101,60. Sementara minyak bumi WTI AS naik 9,7% dan ditutup pada $95,70. Kedua acuan global itu mencapai level tertinggi sejak Agustus 2022, dengan brutal menghapus penurunan harga yang dipicu kebijakan pada pertengahan minggu dan menegaskan risiko geopolitik sangat besar.
Pasar fisik saat ini sedang mengalami gangguan pasokan terbesar dalam sejarah. International Energy Agency (IEA) memperkirakan produsen di kawasan Teluk telah menghentikan produksi setidaknya 10 juta barel per hari sekitar 10% dari permintaan global. Infrastruktur regional juga mulai runtuh, pelabuhan minyak Irak sepenuhnya menghentikan produksi setelah serangan kapal bermuatan bahan peledak terhadap dua tanker bahan bakar, sementara Oman secara preventif mengevakuasi terminal Mina Al Fahal. Selain itu, sekitar 2,35 juta barel per hari kapasitas penyulingan di Timur Tengah kini tidak berprodusi, mendorong China memberlakukan larangan segera terhadap ekspor bahan bakar olahan pada Maret untuk melindungi pasar lokalnya.
Intervensi institusional masih jauh tertinggal dibanding skala kerusakan fisik ini. Meskipun IEA menyetujui pelepasan cadangan strategis sebesar 400 juta barel, pelaku pasar tetap sangat skeptis, mencatat volume itu hanya setara dengan sekitar 25 hari gangguan transportasi saat ini. Di Washington, pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan pengecualian sementara terhadap Jones Act yang berusia satu abad untuk membuka hambatan pengiriman lokal. Namun, Menteri Energi AS Chris Wright mengakui Angkatan Laut AS saat ini belum mampu menyediakan pengawalan komersial melalui Selat Hormuz, sehingga ekspektasi transit aman kemungkinan baru tercapai pada akhir Maret.
Prospek ke depan tetap sangat volatil karena konflik berpotensi meluas. Serangan roket besar Hezbollah, ditambah meningkatnya kekhawatiran keterlibatan langsung kelompok Houthi, menimbulkan risiko gangguan meluas hingga Laut Merah, bahkan ketika Arab Saudi berupaya keras meningkatkan ekspor minyak bumi dari pelabuhan Yanbu. Pasar yang tetap sangat tidak seimbang hingga produksi kembali normal, para trader bersiap menghadapi risiko berkepanjangan serta kelumpuhan logistik terus berlanjut.
Written by: Aiman Haikal
