Freightos Baltic: Container rates rangebound as bunker cost corrections offset Hormuz volatility
Easing bunker fuel prices and soft seasonal demand are suppressing global container rates, effectively offsetting the operational chaos of the Hormuz blockade.
|
Route |
Cost (USD/FEU) |
Changes |
|
Updated on 21 April 2026 |
||
|
Asia – US West Coast |
$ 2,675 |
á 7% |
|
Asia – US East Coast |
$ 3,825 |
|
|
Asia – Northern Europe |
$ 2,700 |
â 3% |
|
Asia – Mediterranean |
$ 3,686 |
â 3% |
Baca lebih detail di Freightos
Pasar pengiriman laut global terlihat tren beragam karena penurunan harga bahan bakar bunker menetralkan tekanan kenaikan harga akibat ketidakstabilan berlanjut di Timur Tengah. Meskipun terjadi hambatan regional signifikan dan upaya operator kapal menerapkan General Rate Increases (GRI), lemahnya permintaan musiman serta kapasitas struktural cukup menjaga tarif spot tetap bergerak dalam kisaran terbatas.
Sinyal saling bertentangan dari Iran terkait Selat Hormuz yang sempat menyatakan jalur tersebut terbuka sebelum tiba-tiba ditutup kembali, memicu reposisi kapal singkat minggu lalu. Status operasional saat ini tetap sangat terbatas, diperparah serangan maritim lanjutan serta tindakan pasukan AS menyita kapal kargo Iran menjelang berakhirnya gencatan senjata.
Akibatnya, rantai pasok regional menghadapi tekanan signifikan. Maersk menangguhkan pemesanan darat layanan lintas batas tertentu di UEA serta pengiriman dari Salalah. Sementara pelabuhan seperti Fujairah dan Sohar melaporkan operasi relatif lancar, kemacetan parah di Khor Fakkan serta kenaikan surcharge pada rute feeder India–Timur Tengah menyoroti rapuhnya koridor alternatif dari darat.
Lebih luas, jaringan kontainer tetap beroperasional stabil, dinamika bunker menjadi penentu utama biaya. Meskipun harga bunker masih 55% di atas level sebelum perang, harga itu terkoreksi tajam, turun 15% dari puncak terbaru dan 9% sejak awal bulan. Penurunan ini aktif membatasi kenaikan harga pengiriman. Selain kekhawatiran akan kekurangan bahan bakar rendah sulfur di hub Asia seperti Singapura tampak berlebihan, pasokan di kawasan Timur Jauh dinilai masih mencukupi dalam waktu pendek. Namun, defisit struktural dapat muncul jika penutupan Selat Hormuz berlanjut melewati kuartal ini.
Kekuatan harga operator kapal terlihat melemah di tengah periode sepi musiman. Tarif Transpasifik naik tipis, berada sekitar $800/FEU di atas level sebelum perang namun tetap jauh di bawah puncak Tahun Baru Imlek. Sebaliknya, rute Asia–Eropa justru melemah, tarif ke Eropa Utara turun 3% menjadi $2.700/FEU, sementara tarif ke Mediterania turun 3% dan berada 5% di bawah level sebelum perang. Kedua rute Eropa itu turun lebih dari 11% sepanjang April akibat diskon agresif di pasar, yang langsung melemahkan pengumuman kenaikan tarif (GRI) oleh operator untuk bulan Mei.
Ke depan, kecuali terjadi lonjakan tajam harga bahan bakar, potensi kenaikan tarif tetap sangat terbatas hingga musim panas. Yang lebih penting, dampak inflasi konflik yang sedang berlangsung berisiko menekan permintaan konsumen, berpotensi menggerus volume kontainer pada keseluruhan musim puncak.
Written by: Farid Muzaffar
